Tampilkan postingan dengan label Fiksi. Tampilkan semua postingan

Moving On! [Cerpen]

Baca selengkapnya » | 6 Comments »



Tittle   : Moving On!
genre  : Teen Romance
Lenght : 1.696 words
Author : Rulitash


Hachiko harus kehilangan Profesor Ueno dan takkan pernah bisa mengembalikannya bahkan hingga Anjing itu mengais debu dengan darah. *

Bahkan setelah tersesat di dunia roh, bertemu Yababa, bekerja di Onsen dan menghadapi si Bayi Besar, Chihiro masih harus kehilanga Haku, seakan petaka yang merubah kedua orang tuanya menjadi babi adalah hal sepele.**

Lihat, selalu ada perpisahan. Bahkan jiwa yang harus meninggalkan raga. Bukan hanya Habibi yang kehilangan Ainun, anak yang kehilangan ibunya, ataupun Andin yang akhirnya kehilangan Juna.

Tidak…
Maksudku, Andin yang diputuskan Juna kemarin malam.

Jangan tanya keadaan gadis itu saat ini. Karena kalian hanya akan menertawainya yang hampir menyikat gigi dengan sabun pencuci muka. Bukan hanya sakit hati sesakit-sakitnya, tapi gadis itu juga tidak bisa berpikir sejernih biasanya.

Ternyata putus cinta memang sakit, lebih sakit lagi jika sudah putus tapi masih cinta.

***

"Serius lo? Gimana bisa kalian putus gitu aja?!"
"Katanya Juna mau kuliah di luar negeri."
"So?"

Andin bungkam begitu Algia meminta jawaban lebih dari itu. Lagipula mana ada orang yang akan puas dengan jawaban seperti itu? Andin sendiri tetap bungkam, lebih karena tidak tau harus menjelaskan masalahnya seperti apa. Apa Andin harus menjelaskan bahwa Juna ingin fokus pada study-nya demi mengejar universitas impiannya di Kairo sana? Apa Andin harus mengatakan bahwa pada kenyataannya Juna mengorbankan dirinya demi alasan lain? Tidak memilihnya? Atas dasar apa? Seleksi alam? Sialan.

Andin sedikit frustasi. Mohon dimaklumi.

"Gak pernah denger istilah long distance relationship kali ya dia?" Algia kembali mencibir, merutuki Juna yang sudah membuat sahabatnya tidak karuan seperti ini.

"Lo kali yang gak tau gimana nyeseknya hubungan Jarak Jauh." Dengan atau tanpa sadar Andin membela Juna yang jelas-jelas sudah membuat dirinya kacau. Mungkin ini efek masih cinta. Rada susah dihingkan memang.

"Lo lupa Voices of a Distant Star yang kita tonton kemaren?" Algia mengingatkan salah satu film animasi pendek yang beberapa hari lalu mereka tonton. Diam-diam gadis menganggukan kepala, benar-benar ingat dan mengerti bagaimana Mikoku yang berhubungan jarak jauh dengan Noburo, jaraknya tidak tanggung-tanggung, sejauh Bumi dengan Sirius, yang bahkan membutuhkan waktu 8 tahun hanya untuk mengirimkan sebuahe-mail.

"Tapi, itukan fiksi, Gi. Jangan disamain dong."

"Yang penting itu bukan soal cerita fiksi atau kisah nyata. Yang penting adalah pelajaran dari hubungan jarak jauh mereka, gimana mereka masih saling percaya bahwa suatu saat nanti ada masa yang akan mempertemukan mereka kembali."

Andin kembali bungkam, sebagian hatinya berseru setuju, tapi tidak dengan otaknya yang kembali membuat penyangkalan. "Beda lah, Gi."

"Lagian kalian masih sama-sama di Bumi. Banyak banget alat komunikasi, trasportasi juga terjangkau." Algia bangkit setelah membereskan isi dompetnya yang berceceran di atas meja. Ibu perpustakaan masih ada di tempatnya  dan Andin memutuskan akan tetap disini.

"Lo kolot, ah, Din. Kayak nenek gue aja."

Kalimat terakhir Algia benar-benar menendang ulu hati dan sisi sensitifnya sebagai perempuan. Untung saja mereka sudah bersahabat sejak awal masuk SMA, membuatnya cukup tahu bagaimana pedasnya Algia jika sudah mengomentari sesuatu.

"Din, dicariin Pak Seka tuh. Katanya ada tugas, Dia gak bisa masuk kayaknya."

Tiba-tiba sebuah suara yang sangat dikenalinya terdengar dengan frekuensi beberapa desibel lebih rendah dari Algia tadi. Tidak perlu menjadi Sherlock Holmes atau bahkan tidak perlu membalikan badan untuk mengetahui siapa yang berada di belakangnya saat ini. Pemuda yang berbicara dengan lembut dan santun seperti biasanya, ugh, Move, Din ..Move!

"Oh iya, makasih. Aku duluan." Dengan secepat kilat Andin beranjak menjauh, seolah tidak mau lagi tersentuh hitam masa lalu.

Yang Andin tidak tahu adalah Juna memperhatikannya hingga berhasil melewati pintu perpustakaan. Yang Andin tidak tau adalah Juna tidak pernah rela melepaskannya begitu saja.

***

Andin hanya memandangi lapangan basket sekolah yang sepi dan seperti tak bertuan. Dengan terpaksa gadis itu menunggu kakaknya menjemput. Memang tidak seperti biasanya, karena kali ini Andin kehilangan ongkos yang diberikan Mama tadi. Tidak hilang juga sih, habis dibayarkan uang kas yang ternyata sudah ditunggaknya tiga minggu ini.

Jujur saja, Andin tidak pernah merasa se-bokek ini. Arjuna selalu membawanya ke kantin untuk di traktir atau bergantian jika ada kesempatan. Ongkosnya selalu tersimpan rapi karena Juna rela menjadi pacar-rangkap-tukang-ojeknya. Sekarang boro-boro, mungkin mantan pacarnya itu capek direpotin.

Geez, suudzon aja terus, Din.

Malam itu Andin sama sekali tidak menyangka bahwa ajakan Juna keluar rumah adalah pertanda paling membahayakan selama hubungan mereka satu tahun ini. Lagipula bagaimana bisa Andin ngeh jika Juna membawakannya sebatang cokelat?

Ternyata cokelatnya hanya sogokan sebelum mereka berakhir.

Mungkin ini bukan keputusan paling tepat, tapi aku udah pikirin resikonya, Din …

Suara lembut nan santun Juna kembali terdengar di otaknya. Entah kenapa hal itu selalu membuatnya ingin menangis.

Kok kamu panggil nama? Sayangnya mana?

Mengingat percakapan mereka kemarin malam membuat Andin ingin terjun saja dari Everest, menggelinding dan jadi bola salju yang kuat dan berat. Setelah itu dia akan mengejar Juna dan menabraknya sekuat tenaga, biar tahu rasa!

“Andin?”

Semakin dibayangkan, suara Juna semakin terdengar nyata. Membuat Andin merinding sendiri karena ternyata dia begitu mencintai Juna.
“Andin?”
“Hah?”
“Kamu aku panggil dari tadi, gak nyaut-nyaut!”

Loh? Kok ada Arjuna di depannya? Iya, Arjuna mantan pacarnya yang sialan sekali karena memutuskannya begitu saja. Kalau begitu dari tadi memang suara Juna? Ugh, Selamat malu deh, Din.

“Sorry, gak fokus.” Suara Andin lemah sekali dan Juna sedikit khawatir.
“Kamu gak apa-apa? Kok belum pulang?”

Andin mendongak melihat Juna yang berdiri di depannya, lehernya sakit karena posisi tinggi badan Juna yang kali ini jauh lebih tinggi. Hatinya berdesir, seperti jantungnya memompa darah lebih cepat.

“Kenapa?”
“Sorry?”
“Kenapa masih perhatian sih? Bikin aku gak bisa move on aja!”

Baik Juna ataupun Andin sama-sama terkejut. Juna terkejut karena ternyata Andin sedang berusaha beralih hati darinya. Dan…bagaimana bisa gadis itu melontarkan kalimat memalukan seperti itu?

“Andin? Kok lo masih nyuruh gue jemput sih? Kan ada Juna!” Suara kakaknya menyentakan Andin kembali pada kefanaan dunia yang kini amat memalukan.

***

Malam minggu selalu jadi malam yang menyenangkan bagi Andin. Selalu ada Juna yang datang ke rumah dengan DVD baru dan sekantong makanan ringan. Datang sehabis maghrib dan pulang jam sembilan malam. Sesungguhnya mereka tidak pernah menghabiskan malam minggu di luar rumah, selama setahun ini.

Dan malam minggu kali ini amat berbeda. Tidak ada mereka yang bersama lagi.

“Yah, wreck it Ralph. Jangan ini dong. Males ada si felixnya.” Andin bertambah lemas dan tidak bergairah ketika Gemi memutar film animasi besutan Disney Pixar itu. Dulu memang Andin suka, tapi tidak saat ini. Tidak karena membawanya ke masa lalu. Ugh, ujung-ujungnya Andin jadi tidak bisa Move on kan.

“Kenapa? Bikin inget doi lagi?”

Tuh kan … sama sekali tidak ada yang mendukung Andin pada saat fase-beralih-hatinya.

Gadis itu memutuskan untuk bungkam saja dan menikmati –yang sebenarnya tidak benar-benar dinikmatinya– bagaimana karakter-karakter fiksi dalam layar kaca itu beraksi. Andin sudah menonton ini jutaan kali, dan ini adalah kali pertama Andin benci Wreck it Ralph.

Kenapa?  Ya tentu saja karena Juna.

“Apalah Disney tanpa Pixar.” Gumaman Andin yang lemah nayatanya masih bsia di dengar Gemi. Dan sialnya, Gemi selalu bisa membuat Andin marah dan jengkel.

“He-em. Apalah Andin tanpa Juna. Butiran Debu?”

Gadis dengan bibir tipis itu benar-benar naik pitam. Ia merasa tidak ada satupun mahluk waras di dunia yang memihaknya. Air mata sudah memupuk di kelopak mata besarnya. Ternyata begini rasanya cinta tidak bertepuk, hampa dan menyakitkan.

“Loh, jangan nangis dong, Din. Jadi jomblo gak seburuk yang lo kira kok!”

“MAMA, KAK GEMI RESEEE!”
***
Tekad Andin sudah bulat, Andin akan membuktikan pada Juna bahwa dirinya bisa bertahan dengan atau tanpa masa lalu mereka. Bukan, Andin tidak akan benar-benar menggelinding dari Everest lalu menjadi bola salju kemudian menghantam Juna, Bukan. Dia hanya akan bersikap biasa seolah masa lalu hanya bayangan yang bahkan tidak bisa tersentuh dan kasat mata.

Seperti kali ini. Dengan sengaja Andin mengambil tempat duduk di samping Juna yang tengah sibuk dengan esiklopedia astronominya. Yang Andin tahu, Juna memang berniat berkuliah di jurusan Ilmu astronomi.

Merasa Juna tidak menyadari keberadaannya sama sekali, Andin dengan sengaja menyimpan bukunya dengan kasar agar menimbulkan suara yang bisa mengalihkan perhatian –oke– mantan pacarnya itu.

Setelah beberapa detik, gadis itu tidak melihat Juna memutar kepalanya satu derajat pun. Gila. Juna spesies apa sih? Kok gak peka?

Dengusan kasar Andin akhirnya terlepas juga. Satu detik kemudian Andin berdehem, berakting membersihkan tenggorokannya yang sama sekali tidak gatal. Sudut matanya melihat Juna yang masih tidak bereaksi, pemuda itu hanya menggerakkan tangannya untuk membuka lembaran ensiklopedianya.

Ketidakpedulian Juna itu membuat hati Andin hampir menyentuh lantai dan terinjak langkahnya sendiri. Tanpa sadar gadis itu menunduk, merasa bodoh.

Bukankah itu artinya Juna memang sudah tidak peduli dengan keberadaannya? Lantas kenapa Andin harus repot-repot membohongi dirinya sendiri juga Juna tentang dia yang baik-baik saja setelah hubungan mereka berakhir? Ironi yang mengerikan, tentu saja.

Bibir bawahnya digigiti tanpa sadar. Kebiasaan Andin jika hampir putus asa.

Matanya berubah lembab, pandangannya kehilangan fokus. Tidak ada yang tahu Andin tengah menyembunyikan tangisnya kali ini. Dia tidak menangisi Juna, tidak menangisi hubungan mereka yang kandas. Dia hanya menangisi dirinya sendiri yang tidak bisa bergerak menjauh secepat Juna.

Juna seperti telah jatuh cinta, kemudian bangkit tanpa cinta. Sedangkan Andin, setelah jatuh cinta, gadis itu harus menelan pahitnya jatuh tanpa dicinta.

“Bahkan, angin pun dianggap elemen yang paling setia karena selalu bergerak dan melaju sesuai waktu…”

Kalau tidak salah dengar, Andin mendengar suara Juna. Tepat di sampingnya. Di samping telinganya. Perlahan gadis itu memutar kepala beberapa derajat, hanya memastikan Juna masih ditempatnya atau tidak.

“Kenapa kamu gak nganggap aku kayak angin yang bakal selalu setia, bergerak, maju, mundur, muter bahkan kayang ke pelukan kamu?”

Setelah mata mereka bersirobok, dan setelah Juna berhasil mengucapkan kalimat setengah puitis yang dihafalnya semalaman pada Andin, gadis itu bergeming. Seolah lupa cara bernafas, seolah lupa bagaimana detak jantung orang normal pada umumnya.

“Selamat ulang tahun, Andin sayang. Gimana rasanya putus sama aku beberapa hari ini? Aku sih gak enak.”

Hari ulangtahun? Maksudnya? … Andin ulangtahun hari ini? Memangnya ini … apa?

Detik berikutnya Andin bisa melihat raut jenaka di wajah Juna. Matanya yang seolah tertawa dan seringainya yang menggemaskan. Jangan bilang kalau semua ini hanya …

“Sialan, kamu jailin aku!”

… Kejutan Juna untuk Andin di hari ulangtahunnya.

“Tapi seneng kan aku cuma pura-pura?”
“Gak.”
“Iya, kamu seneng, Sayang.”
“Gak seneng!”
“Iya.”
“Enggak!”
“Oh berarti aku harus putusin kamu beneran biar seneng?”
“Jangaaan!”

The End.

Catatan Kaki
(*) Film Hachiko Monogatari (Jepang: 1987)
(**) Anime Movie Sprited Away (Jepang: Hayao Miyazaki, 2001)

Aaaah, seneng banget bisa posting sesuatu lagi di sini. Ayo yang sudah baca, kasih aku kripik pedas biar maknyus! :D Semoga suka! #ketjup

Above : Gita

4 Comments »

“Kamu kenal Rifki dari mana?”

Suara Nino agak melengking begitu dia selesai mengecek akun twitterku. Saat ini kami berada di area Taman Kampus Teknik, kampusnya Nino. Tidak terlalu banyak orang, hanya kami dan beberapa mahasiswa yang sedang sibuk dengan laptopnya masing-masing.

Di Universitas kami, Taman Kampus Teknik memang yang paling nyaman. Selain baru, lokasinya juga tidak jauh dari kampus kedokteran, Kampusku. Beberapa pohon akasia membuatnya teduh dan nyaman. Juga air mancur yang didesign dengan begitu apik di tengah-tengah taman.

Kadang aku iri. Kenapa taman kampus kedokteran tidak sekeren kampus Teknik!

Tanganku mengambil alih ponsel dari tangannya, mengeluarkan aplikasi twitter dan memasukannya ke dalam tas. “Kamu gak tahu? Kami kan satu SMA.”

Mata Nino memicing. Aku tahu betul saat ini Nino sedang mencurigaiku, ah Nino memang pacar pencemburu nomor satu!

“Terus, ngapain kalian ngomongin tentang latihan Sanggamara?”

Omong-omong, Sanggamara adalah nama klub pecinta alam yang diikuti Rifki. Entah dengan alasan apa, tiba-tiba Rifki mengajakku untuk mengikuti acara Mendaki Santai. Acara Sanggamara yang ke … sekian kalinya. Aku juga tidak begitu tahu tentang acara itu, tapi apa salahnya mencoba dan memenuhi undangan?

“Aku diajak Mendaki Santai ke Gunung … Gunung mana ya? Aku lupa.”

Seperti dugaanku. Nino tercengang mendengar bagaimana aku menjawab pertanyaannya dengan begitu santai. Aku cukup mengenal Nino selama dua tahun menjadi pacarnya. Dan Nino sama sekali tidak akan mengijinkan aku untuk mengikuti ajakan Rifki.

Jangankan naik gunung, pergi liburan ke Pulau Seribu bersama teman-teman sekelas saja tidak diijinkan. Selain pencemburu, Nino juga posesif. Ih, untung saja aku cinta sama dia.

“Kamu gak bercanda kan, Git?”

“Bercanda gimana?”

Sepertinya sikapku yang dibuat sesantai mungkin sedari tadi membuatnya agak jengkel. Dengan lembut Nino menarik bahuku sehingga aku tepat menghadapnya. Aku bisa melihat bagaimana bola mata hitamnya menatapku dengan dalam dan … mengintimidasi.

“Kamu mau naik gunung sama Rifki, sedangkan kamu tahu aku aja gak pernah ngajak kamu ke Gunung?” Oh, Ya. Suara Nino memang lembut, tapi suara Nino yang seperti itu selalu berhasil mengintimidasiku.

“Loh, salah kamu gak pernah kasih aku ikut. Padahal cuma Gunung.” Dengan kesal aku membalikan badan dan kembali menghadap ke depan. Lampu taman yang padam seolah hidup dengan tiba-tiba dan menertawaiku detik itu juga. “Padahal aku cuma minta naik gunung. Gimana kalau aku minta sebrangin Samudera Hindia?”

Aku bisa mendengar bagaimana Nino berdecak kesal. Dua tahun menjadi pacarnya membuatku bisa menebak jika sekarang Nino sedang memendam amarahnya. Jarang sekali Nino marah-marah padaku apalagi sampai main tangan. Padahal aku tahu, selain posesif dan pencemburu, Nino juga orang paling jago marah.

“Pokoknya aku gak kasih kamu ikut.”

“Yaudah, kalau gitu aku ikut kamu ke Pangrango bulan depan!”

Oh, tentu saja aku tidak mau kalah. Cukup ya, aku ditingal-tinggal Nino naik-turun gunung selama ini.

“Gunung Pangrango bukan playground, Gita.”

“Dan Aku bukan ayunan yang bisa kamu mainin, terus ditinggal pergi gitu aja.”

***

Setelah perdebatan singkat di Taman Kampus Teknik tempo hari, Nino ngambek dan tidak mengabariku sampai saat ini. SMS yang dikirimkannya padaku hanya berisi peringatan agar aku tidak lupa makan teratur dan membawa jaket kemanapun.

Duh, Kok rasanya seperti mau ditinggal pergi jauh ya.

Tapi saat ini aku sudah berada di sekertariat Sanggamara. Ada beberapa laki-laki berambut gondrong dengan kumis atau janggut tipis di depannya. Jelas aku tidak tahu siapa mereka. Aku hanya mencari keberadaan Rifki yang sudah berjanji akan menungguku di sini.

Sekertariat ini benar-benar terlihat ramai, aku tidak bisa melihat dimana Rifki saat ini. Apakah berada diantara laki-laki di atas motor-motor yang terpakir di depan sekertariat, atau diantara laki-laki dengan golok yang digunakan untuk membuat pancu di sudut bagian lain bangunan ini.

Yang jelas aku sudah menghubunginya, dan tidak mendapatkan jawaban.

“Nyari siapa, Mbak?”

Tiba-tiba aku dikejutkan oleh seorang laki-laki bertubuh tinggi besar dan berkumis tipis yang akan melewati pagar dengan motor bebeknya.

“Nyari Rifki. Udah janjian di sini, Kok.”

“Oh, masuk aja dulu, Mbak. Tadi Rifki keluar sebentar.”

Apa? Masuk ke dalam katanya? Lalu berkumpul bersama semua laki-laki setengah menyeramkan di sana? Ih, kok aku mikir seribu kali ya. Kayaknya mending di sini saja. Lagian, orang ini kan bilangnya Rifki Cuma sebentar.

“Enggak, Makasih. Biar di sini saja.”

Aku sama sekali tidak melihat penampakan anak perempuan seusiaku di dalam. Sama sekali tidak ada, padahal di Gahara –Klub pecinta alam kampusku, banyak sekali mahasiswi perempuan yang sering ikut mendaki. Untuk itulah aku juga ingin ikut, tapi sialnya Nino tidak pernah mengijinkan.

Dari tempatku sekarang, aku hanya melihat seorang perempuan di balik gorengan-gorengan hangat yang banyak disantap anak-anak Sanggamara. Dari pakaiannya sudah bisa ditebak kalau dia hanya pedangan gorengan atau sejenisnya. Bukan anggota atau apa.

Setelah beberapa kali melirik jam tangan hadiah dari Nino, akhirnya Rifki datang. Dia mengenakan jaket Avtech dan slayer Sanggamara berwarna ungu yang malah mengingatkanku pada kumpulan anak slankers jaman dulu.

“Sori, Git. Lama ya?” Rifki datang dengan motor. Dan ketika melihtaku di depan pagar, anak itu langsung turun. Bau badannya tidak sedap. Seperti bau Nino setelah bermain Futsall atau lari pagi. “Tadi abis dari senayan, liat anak-anak yang pada latihan.”

“Naik yok. Kita masuk.”

Dengan ragu Aku naik diboncengan motor Rifki. Motornya Kawasaki Ninja yang knalpot motornya benar-benar membuat polusi suara.

“Kita Registrasi dulu.” Katanya, setelah turun dari motor dan berjalan melalui laki-laki dengan golok tadi. Banyak suara yang usil mengomentari kebersamaanku dengan Rifki. Belum lagi siulan-siulan usil dari sudut lain. Ih, kok mereka rese sih.

Sekertariat Sanggamara jauh lebih besar dibandingkan dengan sekertariat Gahara di Kampus. Ada cukup banyak Sofa di dalam dan sebelum aku masuk ke ruangan registrasi, aku bisa melihat bagaimana sebuha foto besar terpampang di bagian dinding kosong yang tereskpos. Foto besar itu berisi kurang lebih lima puluh orang yang aku yakin anggota Sanggamara. Belum lagi foto-foto lain mereka, seperti foto ketika berada di Puncak Gunung Mahameru, Semeru, bahkan Jayawijaya. Aduh, sepertinya mereka sudah malang melintang. Aku jadi Keki sendiri.

“Sore, Bang Opi.”

Seorang laki-laki berusia pertengahan tiga puluh berada di balik meja dengan kemeja kotak-kotaknya yang rapi. Berbeda sekali dengan anak laki-laki yang bergerombol diluar tadi, yang berkeringat dan berjanggut.

“Eh, Ki. Sama siapa?”

“Temen, Bang. Mau ikut Ke Cikuray katanya.”

Rifki memegang sikutku dan menuntunku untuk duduk di depan Bang Opi. Dia juga ikut duduk, di kursi lain di sampingku. Aku tersenyum canggung pada sosok Bang Opi yang ramah.

“Wah, Mbak siapa nih namanya?”

“Panggil Gita aja, Bang.” Aku sedikit bergerak mengatur duduk.

“Yakin mau ikut Mendaki santai?”

Duh, ini adalah bagian yang paling tidak kusukai. Basa-basi. “Yakin, Bang. Cuma ya, Aku masih pemula. Belom pernah naik Gunung.”

“Gak apa-apa. Toh nanti juga Dek Gita gak bakalan sendiri. Cuma, sebelum registrasi kita perlu memberitahu tentang berbagai persiapan yang harus dilakukan sebelum naik.” Bang Opi terlihat menunduk, mengorek isi laci dan mengeluarkan sebuah formulir lalu meletakannya di depanku. “Jadi, pertama-tama Dek Gita harus menyetujui tentang sejumlah biaya yang harus dibayarkan setelah registrasi, setelah itu ada cek kesehatan dari tim medis kami, Latihan fisik secara berkala, lalu kembali cek kesehatan dan terakhir persiapan dan pengumpulan barang dan logistik.”

Aku hanya mengangguk-anggukan kepala dan tersenyum masam mendengar apa saja yang harus dilakukan sebelum naik ke gunung. Mana ada cek kesehatan pula, kalau aku ketahuan punya asma dan mereka tidak mengijinkanku naik bagaimana?

“Iya, Bang. Berarti formulirnya saya bawa ke Rumah ya?” Aku melihat ada kolom tandatangan orangtua atau wali, jadi ya sudah pasti pengisian formulirnya dibuat PR.

Aku sih sudah yakin Mama dan Papa akan mengijinkanku, tapi tidak dengan Nino. Dan Bagian paling sulit adalah memberitahunya tentang hal ini.

***

Celaka dua belas adalah ketika Nino sudah berada di ruang tamu rumahku, sedangkan aku baru kembali ke rumah sekitar pukul setengah enam sore. Dengan tidak biasa Nino bercengkrama dengan Mama, kalau tidak salah dengar, mereka membicarakan masalahcupcake yang berbulan-bulan lalu aku buat untuk Nino. Ih, seperti tidak ada bahan obrolan lain saja.

“Gita. Kamu dari mana saja. Nino udah nunggu lama, kamu malah baru pulang.” Mama berdiri dan menghampiriku yang masih membeku ditempat. Tidak percaya Nino akan datang menungguku. Jantungku berdetak cepat, rasanya seperti  ketika diapelin pertama kali. “Dih, mana bau lagi. Malu ih.”

“Bau-bau juga, tetep anak Mama.” Aku melangkah ke arah sofa dan duduk tepat disebrang Nino. Ekspresi wajahnya jauh lebih baik dibanding terakhir kali aku melihatnya. “Hai.”

Aku mulai menyapanya duluan, dan setelah itu Mama melenggang pergi, seolah sadar diri bahwa ini adalah urusan anak muda.

“Hai. Kok baru pulang? Dari mana?”

“Kok, tumben dateng? Ada apa?”

Tanpa kusangka Nino malah menertawaiku yang malah balik bertanya dibandingkan menjawab pertanyaannya. Mana sepertinya nada bicaraku sarkastis sekali, padahal sama pacar sendiri.

“Emang harus ada apa-apa ya, kalau mau dateng?”

“Ya, gak biasa aja. Kamu kan pacar tersibuk abad ini.”

Nino menatapku lembut, tangannya yang sedari tadi tersimpan di pangkuan kini terulur menyentuh kedua tanganku yang bebas. Ah, rasanya sudah lama sekali kami tidak seperti ini.

“Aku minta maaf, Ya. Kalau selama ini belum bisa jadi pacar yang baik buat kamu.” Suara Nino memang lembut, tapi jelas tidak pelan. Dan aku yakin Mama sedang menguping entah dimana.

“Jujur aja, aku gak bisa ngambek-ngambekan lama sama kamu. Rasanya gak enak.” Ya, sama. Memangnya aku suka didiemin seperti lukisan di museum? Tapi aku hanya mengangguk dan memaklumi kelakuan Nino. Aku yakin Nino hanya terlampau sayang padaku dan tidak menginginkan hal buruk terjadi padaku. Ya, Aku mengerti …

“Tapi, Aku tetep gak bisa ijinin kamu naik gunung bareng Rifki.”

Loh kok? Bibirku yang semula tersenyum maklum nan lembut berubah cemberut kembali. Apa-apaan Nino ini? aku kira dia sudah sadar telah bersikap posesif padaku lalu mengijinkan aku pergi.

“Kok gitu sih?” Jelas saja aku tidak terima.

“Kamu harus inget, Git. Kamu cewek, punya Asma pula. Aku sudah tanya ke Rifki, kalau agenda Sanggamara selanjutnya itu Ke Cikuray. Bahkan aku gak yakin kamu tahu Cikuray dimana.” Memang iya sih. Aku belum tahu dimana letak Gunung Cikuray yang dimaksud Rifki dan Bang Opi tadi, aku baru akan mencari tahunya setelah ini.

“Kamu tahu berapa tinggi Cikuray?” Jelas aku menggeleng, Cikuray dimana saja aku tidak tahu, apalagi ketinggiannya. “Dua ribu delapan ratus dua puluh satu meter diatas permukaan laut.” Aku hampir saja terngaga mendengar perkataan Nino. Serius? Meskipun aku yakin ketinggiannya masih kalah jauh dengan ketinggian Mahameru, tapi … tetap saja aku tidak bisa membayangkan seberapa tinggi si Cikuray.

“Belum lagi kondosi alamnya yang masih liar. Masih banyak Babi hutan, binatang buasnya juga.”

“Serius?” Kali ini aku benar-benar tidak bisa menahan ketercenganganku. Dan aku bisa melihat bagaimana Nino tersenyum melihat kepanikanku saat ini. Kenapa aku bisa keceplosan norak seperti itu sih.

“Iya. Makanya aku gak kasih ijin kamu ikut ke sana.”

Jujur saja aku bingung. Bagiamana aku harus mengelak lagi dan tetap bersikukuh dengan kehendakku sendiri, sedangkan aku sendiri mulai tidak yakin dengan keputusanku.

“Kalaupun kamu tetep mau naik Gunung, kamu cuma boleh naik bareng aku, gak sama Rifki apalagi tanpa aku.”

Kali ini aku totoal speechless. Sebenarnya aku juga seperti itu. Aku ingin pergi hanya dengan Nino. Tadinya aku hanya ingin menggertak Nino saja, tidak benar-benar ingin pergi tanpanya.

“Besok kamu ikut aku ya. Aku mau ngasih tunjuk kamu sesuatu.”

***

Nino benar-benar membawaku pergi di pagi-pagi buta keesokan harinya. Dia datang dengan Avanza Papanya. Tumben, padahal Nino paling anti bawa mobil orang.

Di sampingnya, aku hanya bisa duduk sambil melihat bagaimana jalan tol jagorawi yang lembab. Oh, Ya. Tadi malam sempat hujan dan sampai saat ini masih gerimis. Kaca mobil juga berembun.

Sampai saat ini aku belum tahu akan dibawa kemana. Aku tidak terlalu memikirkannya, aku hanya butuh tidur lagi saat ini.

“Aku tidur dulu boleh gak, No?” Suaraku masih seperti teredam bantal, padahal aku sudah mandi air dingin tadi.

Kulihat Nino menolehkan kepala ke arahku, yang hanya kusambut dengan pandangan sayu ala orang mengantuk.
“Aku nyalain CD ya? Mau lagu apa?”

“Apa aja asalkan jangan koleksi lagu kamu.” Kenapa? Karena koleksi lagu Nino itu tidak ada yang benar. Dia pecinta Eminem, yang kalian tahu musiknya berisik.

“Tenang, ini kan mobil Papa. Aku pasangin Glen Fredly ya.”

Aku hanya mengangguk sambil merapatkan jaket yang kukenakan. Entah anggukanku terlihat oleh Nino atau tidak, Aku tidak peduli. Aku hanya ingin tidur …

***

Dan aku terbangun lalu menyadari aku sudah tidak berada di Jakarta. Glen Fredly masih bernyanyi, dan ketika aku melihat Nino, dia hanya melemparkan senyumannya ke arahku. Duh, manis sekali.

Saat kulihat jalanan di depan, Avanza silver ini berada di antara pertigaan lalu berbelok ke kanan.

“Ini di Paragajen.”

Hah? Dimana itu?

Dan saat aku menolehkan kepala ke arah jendela, aku bisa menemukan Papan nama Taman Nasional Gunung Gede Pangrango di sebelah kiri jalan, terpampang besar dan semakin membuatku bertanya-tanya.

“Jaketnya dipake yang bener. Di sini dingin tahu.”

Aku menurutinya, memperbaiki kondisi jaketku yang agak berantakan pasca tidur sedari tadi. Banyak pohon-pohon besar disekitar jalan, selain jalan menanjak dan berliku aku cukup dibuat takjub dengan keadaan disekitarnya. Mana bisa aku melihat yang seperti ini di jalan Jakarta.

Lalu, kira-kira tiga kilo meter dari Paragajen yang dikatakan Nino tadi, mobil sampai di portal pintu gerbang gerbang wisata Cibodas. Aku bisa tahu karena memang ada plang besar di portal itu.

Nino membayar sejumlah uang retribusi yang tidak seberapa untuk kami berdua lalu kembali melaju. Tidak lama kemudian aku menemukan sebuah bangunan, seperti kantor daerah atau apa. Aku tidak tahu.

“Kita berhenti di sini.”

Loh kok?

Tapi, betapapun aku kebingungan dengan apa yang terjadi hari ini. Aku sama sekali tidak mengajukan protes. Sedari tadi, aku hanya mangut-mangut dan iya-iya aja dibawa kemanapun oleh Nino.

Nino membantuku berjalan, seolah aku adalah penderita lumpuh atau gangguan saraf. Tapi memang sepertinya aku lumpuh seketika keluar dari mobil. Entah ini efek duduk terlalu lama atau dingin yang benar-benar menusuk.

Ada danau di depan kantor ini. Entah ini sebenarnya memang Kantor atau Villa. Bangunannya nyaman.

“Sini, duduk.”

Nino mengajakku duduk di salah satu bangku disamping bangunan itu, lalu benar-benar menemukan sebuah pemandangan menakjubkan. Sebuah Gunung, yang dari jarakku saat ini berwarna biru, membuatnya terkesan sangat jauh dan tak tergapai.

“Ini Kantor Besar taman nasional gunung Gede Pangrango.”

Apa katanya? Aku terngaga. Jadi aku berada di pintu masuk ke gunung Gede Pangrango? Serius? Ih, kok Nino gak bilang-bilang sebelumnya.

“Dan kita lagi di Cibodas sekarang. Puncak Gede atau Pangrango masih jauh. Jauh banget. Kamu liat di sana kan?” Nino menunjuk gunung dihadapan kami. Ya, memang tidak terlihat dekat. Kakiku mendadak lemas membayangkan jika setelah ini aku diajaknya mendaki.

“Kamu tahu gak, kenapa aku gak pernah ngajak kamu ke Gunung, padahal banyak cewek lain yang aku bolehin ikut di acara Gahara?”

Tiba-tiba suara Nino benar-benar melunak. Kami sudah berhadapan saat ini, tangannya menggenggam kedua tanganku. Aku kembali dibuat luluh.

“Karena kamu adalah orang yang aku sayangin, dan aku sama sekali gak mau orang yang aku sayangin kenapa-napa.” Aku hanya balas mendalami danau yang ada di bola matanya, seolah bersenang-senang di sana dan sedikit mengintip apa yang di tatap Nino melalui dua bola matanya.

“Seperti yang aku bilang, Gunung itu bukan Playground. Tapi aku sama sekali gak pernah nganggep kamu seperti ayunan. Kamu adalah kamu, orang yang aku sayang.”

Tanpa bisa dibendung lagi, air mataku jatuh dan membentuk aliran di sepanjang pipiku. Jari-jari tangan Nino mengusapnya dan membuat aku berhenti terisak.

“Aku cuma bisa nunjukin ini sama kamu.”

“Kamu gak percaya aku bisa sampai sana dengan selamat?” Ujung jari telunjukku terangkat dan menunjuk bagian pucak gunung yang terlihat seperti rendah dari tempatku saat ini.

“Bukan. Aku bukannya gak percaya sama kamu. Aku gak percaya kalau aku bisa jaga kamu dengan baik.”

Dan detik itu juga aku menangis. Hujan yang semula hanya turun dengan malu-malu tiba-tiba saja turun dengan deras. Kami tetap ditempat, aku tetap menangis, dan Nino setia menghapus air mataku.

Aku malu karena menangis didepan gunung yang berdiri dengan kokoh dan pongah di sana, aku malu karena aku membuat Nino tidak percaya pada dirinya sendiri.

***


Ehem, ada yang harus diluruskan tentang Deskripsi Kantor Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrarngo diatas, karena aku gak tau gimana wujud aselinya, aku cuma berusaha mendeskripsikannya sesuai dengan apa yang aku lihat di gambar ya ^^ jadi maaf kalau ada ketidaksesuaian.

Silahkan Layangkan komentar di kolomnya ya. Love you, Gais {}

Gold Hold [Chapter 15]

12 Comments »


PS : Buat mendramatisir suasan, coba play lagu christian kane yang thinking of you yaaaa di scene-scene Gabby sebagai background sound-nya .

Enjoy.


Pagi-pagi sekali Delphine sudah berada di depan pintu apartemen William. Seperti janjinya, dia akan berada di samping William saat merayakan ulang tahun si kembar. Ada hal yang sudah direncanakannya dan ia yakin ini akan berhasil. Pengalaman yang tidak akan dilupakan si kembar ataupun Ayahnya. 

            Sedangkan William yang baru saja terjaga dari tidurnya, terkejut begitu saja ketika melihat penampakan Delphine yang berdiri di depan Apartemennya. Sudah wangi dan cantik. Kemudian William mencoba memandangi dirinya sendiri, belum mandi dan bau. Oke William tahu itu.

            Si kembar juga nampaknya masih terlelap. Saat Delphine dipersilahkan masuk, kedua anak itu tidak terlihat.

            “Saya tidak tahu kamu akan datang sepagi ini.”

            Ya, Delphine sendiri tidak menyangka mengapa dirinya sesemangat ini.

            “Kita memang harus ke Pasar sepagi mungkin.”

            Apa yang dikatakan Delphine kontan membuat William berbalik dan terbelalak. Apa katanya? Pasar? Untuk apa?

            “Nagapain ke Pasar?”

            “Udah deh jangan dulu banyak tanya. Kamu mandi, biar saya yang bagunin si kembar.”
***

            William memutuskan untuk memakai mobilnya saja ke tempat yang telah direncanakan Delphine. Seperti biasa, Delphine duduk di bangku penumpang depan dengan kedua anaknya yang berebut ingin mendapatkan pangkuan gadis itu.

            Kali ini Wilson yang mendapatkan pangkuan Delphine dan Eve mundur dengan teratur. Radio dinyalakan, memperdengarkan lagu after the love has gone yang entah milik siapa ke telinga para pendengarnya. Ini adalah salah satu lagu favorite Pak Goes yang juga selalu diperdengarkan pada Delphine semasa kecil.

            “Kita mau kemana sih, Tante?”

            Di perempatan lampu merah Wilson mulai bertanya setelah keterdiamannya yang begitu lama. Suara anak itu pelan sekali, serak pula. Delphine perlu menurunkan kepalanya dan mendengarkan Wilson kembali bertanya sekali lagi.

            Ya Tuhan, nampaknya Wilson demam. Badannya panas, Matanyapun merah. “Kamu sakit?”

            Mendengar Delphine bertanya demikian, William menolehkan pandangannya pada mereka berdua, tidak terkecuali Eve yang berada di belakang, ikut merogohkan kepala melihat bagaimana keadaan Wilson.

            “Badannya panas, Will.”

            Lengan kokoh William merangsek meraih kepala Wilson dan meletakan telapak tangannya pada dahi anak laki-laki itu. Memang benar, agak panas dari normalnya. “Kamu gak apa-apa?”

            “Enggak, Pop. Son cuma kedinginan.”

            Delphine dan William saling berpandangan. Mereka buta soal gejala ketidaksehatan. Apakah Wilson baik-baik saja atau malah sebaliknya, mereka tidak tahu. Tapi berdasarkan pengalaman William sebagai Ayah, Demam itu bukan penyakit, tapi gejala suatu penyakit. Takut Wilson kenapa-napa, William memutar arah ketika lampu merah selesai. Mereka akan pergi ke rumah sakit saja kalau begini.

            “Kita ke dokter aja dulu.”
            “Rencana kita?”
            “Dengan Wilson yang gak enak badan?”

            Sadar dengan nada bicara William yang mulai terdengar sarkas, Delphine merosot dan memutuskan mengikuti apa yang akan dilakukan William. Memangnya siapa Delphine sehingga ingin memaksakan kehendaknya sendiri pada William dan si kembar? Calon ibu? Ke Laut saja dulu.

***
            Kamar Gabby terlihat sangat rapi. Beberapa pembantu memang membereskannya sebelum Gabby dipindahkan ke rumah. Sudah beberapa hari ini Ia diperbolehkan kembali beraktifitas.

            Kembali ke Golda dan menemukan sedikit kekacauan di sana. Pagi ini ia akan beristirahat dulu di rumah dan memaksimalkan kemampuannya besok di Golda. Setelah mandi dan masih mengenakan handuk kimono yang melekat di tubuhnya, Gabby bergerak akan membuka tirai jendela kamarnya. Menantikan sengatan matahari pagi yang akan meyorot kamarnya dengan kehangatan.

            Tangannya meraih tirai dan membukanya dengan sekali hentakan. Penampakan taman belakang rumahnya yang tertata rapi benar-benar menyenjukan padangan. Tapi ada yang menarik perhatiannya. Seolah komposisi yang tidak pas pada sebuah gambar, Apa?

            Nampaknya sebuah kertas. Tidak, kertasnya menjadi pemberat sebuah balon gas. Ya, di balkonnya ada sebuah balon gas yang tergantung dengan berat sebuah kertas dan batu yang terikat di ujung talinya. Gabby tergerak mengambilnya. Matanya menatap ke sekeliling. Tidak ada siapa-siapa. Apakah ini sebuah surat? Apakah ini ditujukan padanya?

            Diraihnya kertas itu dan Gabby kembali masuk ke dalam kamarnya setelah menutup pintu balkon. 

            Perempuan itu duduk di atas ranjangnya lalu pelan-pelan membuka surat yang sepertinya ditunjukan padanya itu. Kertas yang lusuh. Tapi tintanya terlihat baru dan tebal.

Kane
“must come to some ending.”
“And when a new moon shines through your window.”
“Or you hear a sad song on the radio.”

            Gabby terlihat terdiam membaca tulisan yang ada pada secarik kertas itu. Ia memang tidak tahu apa maksud si penulis surat menuliskan potongan-potongan lirik lagu Christian Kane itu. Ini bukan lagu asing baginya. Ini adalah lagu favoritenya dulu. Ya, dulu sekali.

            Tiba-tiba otaknya seakan berubah menjadi roll film dan memutarnya sendiri pada kurun waktu masa lalu. Banyak bayangan orang-orang yang pernah ia temui di sana, ada yang ingin ia temui lagi  sekarang dan ada yang enggan.

***
3 tahun lalu …
            Menjalin hubungan dengan Jo bukanlah suatu hal yang mudah. Tapi Gabby sanggup bertahan hingga dua tahun terakhir ini. Hari ini adalah ulangtahunnya, Jo memintanya datang kesebuah restoran mewah yang disebutkannya dalam pesan singkat yang telah ia kirim. Ada dua sisi yang dimiliki diri Jo. Sekuat tenaga Gabby berusaha mencintai keduanya, meski kadang dengan peluh dan sakit yang ia rasakan setiap kali mencoba melakukannya.

            Jo bukanlah pacar pada umumnya, Gabby menyadari hal ini setelah satu tahun hungan mereka. Ada yang salah dengan Jo. Kekasihnya itu seperti psikopat. Awalnya Gabby menganggap tamparan Jo di pipi dan pukulan yang sering di lontarkan kekasihnya itu hanya luapan emosi sesaat, tapi kemudian hal itu kerap terjadi. Gabby tidak bisa lepas darinya karena beberapa masalah.

            Rasa sayangnya, rasa kasihan dan tekanan Jo yang tak menginginkan Gabby hengkang dari kehidupannya.

            Setiap kali Gabby meminta putus, Jo akan mengurungnya di apartemen milikinya selama beberapa hari, tergantung seberapa cepat Gabby memohon ampun dan kembali duduk di sampingnya. 

            Hal ini tentu menyeramkan bagi kalian yang baru mengalaminya. Tapi tidak dengan Gabby, dua tahun berlalu dan Gabby sudah kebal dengan cacian, tamparan dan pukulan yang sering dilontarkan laki-laki itu.

            Lama-lama ia terbiasa. Terbiasa dengan sakit yang ia jaga.

            Malam itu hujan. Gabby datang sendiri ke restoran yang dimaksud Jo dengan mobilnya.  Bahagia tak terkira ketika Jo bersikap begitu menyayanginya dan sakit yang tak terukur ketika Jo berubah menjadi sisi lain dari dirinya.

            Gaun yang dikenakan Gabby cukup terbuka, ia kira sebuah gaun seperti itu pantas dipakai untuk sebuah acara makan malam di hari ulangtahunnya sendiri. Tidak tahu apa yang akan terjadi nanti, Gabby tetap berangkat dan berharap Jo berada di sana dengan buket bunga super besar seperti yang dimimpikannya kemarin malam. Ini adalah impiannya, tidak salah, dan jangan protes.

            Tiba di sana, Gabby di sambut dengan sebuah restoran mewah dengan banyak lampu cantik yang menghiasinya. Dari luar Gabby bisa melihat Jo berdiri menyambutnya di dalam dengan setelan jas mahalnya. Ini mungkin hari bahagianya, dengan sedikit berlari, Gabby datang menghampiri Jo dan menghambur kepelukannya. Senyuman Jo nyata tercipta.

            “Selamat ulang tahun, Cherie.”

            Tidak ada jawaban dari Gabby, gadis itu sibuk mengontrol dirinya sendiri agar tidak mengeluarkan air mata. Sekali lagi, ini adalah bagian kebahagian lain dihidupnya. 

            Jo mengiringnya masuk. Menuju sebuah meja bundar besar dengan dua buah kursi. Meja khusus mereka mala mini. Ia ingin memberikan yang terbaik bagi sang kekasih di hari ulang tahunnya. 

            “Kamu nyiapin ini semua?”

            “Siapa lagi?”

            Senang sekali melihat Gabby senang dengan kerja kerasnya. Sudah beberapa hari yang lalu Jo mempersiapkan ini semua. Restauran, buket bunga yang ada di setiap sudut ruangan bahkan hingga lilin yang ia siapkan khusus untuk malam ini.

            Pelayan datang dengan makanan di nampan logam yang dibawanya, ada beberapa mangkuk kecil berisi makanan yang tidak di ketahui Gabby. Jo memandangi sang kekasih yang masih terkagum-kagum. Setelah pelayan selesai menghidangkan makanan pembuka untuk mereka, Jo menarik tangan Gabby dengan perlahan.

            “Aku mau, di hari special kamu ini, aku melakukan seribu hal special buat kamu. Biar kamu gak bisa lupa, sama aku dan kenangan yang kita buat.”

            Air mata Gabby hampir keluar, namun ia masih berusaha menahannya. Ini memang air mata bahagia, tapi tidak. Ia berpikir untuk tidak menumpahkan air mata apapun yang terjadi hari ini.

            Matanya menangkap Jo yang sedang mengeluarkan sebuah kotak beludru berwarna biru dari dalam saku jasnya. Apa jangan-jangan … Jo akan melamarnya hari ini? Iyakah?

            Astagaaa, satu hal yang tak pernah di bayangkan Gabby akan terjadi hari ini.

            Ketika Jo mulai membuka kotak beludru itu, sebuah cincin bertahtakan berlian di atasnya terlihat begitu mengikat siapa saja yang melihatnya. “Kamu mau jadi pendamping hidup aku untuk selamanya?”

            Susah payah Gabby menelan ludahnya sendiri, Ini adalah peristiwa paling indah sekaligus membingungkan baginya. Apa yang harus dijawabnnya?

            Tentu saja Jo menginginkan jawaban Ya dari Gabby, tapi entah kenapa hari itu Gabby berada dalam keraguan ketika akan mengucapakan satu kata dengan satu huruf kokal dan konsonan itu. Pikirannya teringat bagaimana Jo yang temperamental  dan psikopat. Apakah Gabby akan benar-benar sanggup menghabiskan seluruh sisa hidupnya bersama seorang Jo?

            Pertanyaan-pertanyaan itu berkeliaran di otaknya. Mencipatakan keraguan besar yang tidak bisa Gabby enyahkan begitu saja. Tapi mana mungkin Gabby menolak, bukankah ia bahagia bersama laki-laki itu? Bukankah …

            Ah sudahlah, bertengkar dengan batinnya sendiri bukanlah sebuah solusi. 

            Tangan Jo menyentuh punggung tangannya, membuatnya terkejut dan tertarik kembali ke alam nyata.
  
            “Kamu menolak?”
            “Eh?”
            “Atau kamu ragu?”

            Bagaimana Gabby harus menjawabnya?

            “Enggak, bukan gitu. Aku Cuma ..”

            BRAAAAK!

            Jo menarik taplak meja cantik yang sebelumnya neghiasi meja bundar ini. Membuat beberapa makanan dalam magkuk jatuh dan berceran di bawah lantai. Pelayan yang berusaha mengetahui apa yang terjadi hanya terdiam melihat bagaimana Jo maraha. Mereka mungkin abaru melihatnya, tapi tidak dengan Gabby, ini hal biasa.

            Ya, ini hal biasa yang tetap membuatnya gemetar bukan main.

            Tangan Jo yang besar mencengkram Gabby yang kini hanya berdiri di depannya, memaksanya menjawab dan mengatakan apa yang menjadi halangannya menerima lamaran Jo. Gabby pikir apa? Dua tahun mereka menjalin hubungan dan peremouan itu tidak meneriam pinangannya? Benar-benar bodoh, dengusannya terdengar dalam hati.

            Yang nampak hanya kemarahannya dan sikap kasarnya seperti biasa.

            “Jawab!”

            Ini tidak seperti apa yang diharapkan Gabby dalam momen ulangtahunnya. Tidak seperti Apa yang diucapakannya dalam serentetan doanya pada Tuhan, kenapa jadi seperti ini? Kenapa Jo kembali berubah mejadi seorang iblis dengan tanduk yang tersembnyi seperti ini?

            “Kamu pikir! Dengan sikap seperti ini aku bakal nyaman hidup selamanya sama kamu?” Tidak percaya dengan apa yang dikatakannya sendiri Gabby langsung terdiam. Ucapannya tadi mungkin telak bagi Jo, karena sebelumnya Gabby selalu diam ketika Jo menyiksanya. “Kamu psikopat!”

            PLAAAK!

            Tamparan keras Jo terhantam pipi pualam Gabby, membuatnya terlihat memerah dan Gabby kain sekali aka nada luka keunguan yang membekas. 

            “Dengan kamu nampar aku, keraguan aku buat nerima lamaran kamu semakin kuat, Jo.” Air mata Gabby sudah merebak. Niatnya tidak tercapai, tidak ada airmata dengan Jo memang benar-benar mustahil. Semseta tidak mengijinkan air matanya absen barang sekalipun.

            Entah kalap atau apa, Jo mengambil pisau yang ada di bawah lantai. Alat makan yang sebelumnya di sediakan untuk memakan makanan yang telah disiapkannya.

            Setan mana yang merasuki tubuh Jo, Gabby tidak tahu. Laki-laki itu mengarahkan pisaunya ke lengan dan menyayat kulit lengannya sendiri dengan pisau. Bukan main kagetnya Gabby ketika darah segar mengalir dari  celah kulit yang terbuka.

            “Kamu lihat? Aku bisa menyakiti diri sendri dengan kamu yang ninggalin aku.”

            “Silahkan!”

            Kembali tidak menyangka dengan apa yang dikatakan Gabby, Jo mengarahkan pisaunya pada leher Gabby. Seketika Gabby lupa cara bernapas. Bergerak sediki saja, benda tajam itu akan menyayat kulit lehernya.

            “Ini yang bikin aku ragu. Kamu yang kejam dan pemarah. Kamu harusnya tahu itu.”

***
            Mengingat masa lalunya dengan Jo membuat Gabby pening seketika. Surat ini memang dari jo. Tidak salah lagi. Apa yang harus dilakukannya sekarang? Apakah laki-laki itu balas dendam? Apakah dalang dari balik semua kejadian yang menimpanya akhri-akhir ini adalah Jo? Benar-benar tidak bisa dipercaya. Harusnya Gabby tahu Jo adalah psikopat yang bisa melakukan apapun demi nafsunya yang harus terpenuhi.

            Kertas berisi surat dari Jo itu jatuh keatas lantai sedangkan Gabby menangis tersedu-sedu. Bingung dan tidak tahu harus berbuat apa. Ini yang paling dibencinya. Ketika ia bingung dan tidak tahu harus berbuat apa.

***

            Wilson tidak apa-apa. Demamnya hanya gejala, dokter mengatakan bahwa daya tahan tubuh Wilsom menurun karena kemarau saat ini. Anak itu nampak sehat ketika keluar dari ruangan dokter, kembali berkutat dengan pspnya dan berjalan di samping Eve.

            “Jadi kita ngapain sekarang?”

            Rencana yang sudah disusun Delphien sudah hancur secara bertahap sejak William memutuskan mengantar Wilson ke dokter. Dia tidak tahu lagi harus apa, seharusnya William ada ide alternative dan tetap merayakan hari ulang tahun anaknya.

            “Menurut kamu?”

            “Malah balik nanya.”

            Mereka sudah berada di dalam mobil dan William memilih mengajak anak-anaknya pergi ke taman bermain saja hari ini. Meski sama dengan tahun kemarin setidaknya …. Sial, memang nampak tidak kreatif ayah yang satu ini.

            “Kita ke dufan lagi yuk?”

            Baik delphine ataupun kedua anaknya nampak terkejut dengan ide William. Tahun lalu mereka juga ke dufan, tapi mereka nampak senang.

            “Mauuuu, Pop!”
            “Dih, gak kreatif.”

            Suara panggilan di ponselnya terdengar. William mengangkatnya sebentar dan betapa terkejutnya ia ketika mendengar apa yang dikatakan Pak Goes di seberang sana.

            Ketika sambungan terputus William segera menyalakan mobil dan menarik persneling. Ini adalah hal gawat, kalian bisa lihat dari ekspresi William saat itu.

            “Ada apa?”

            “Kita ke rumah kamu sekarang.”

***

            Kediaman rumah Pak Goes terlihat sepi dari luar, tapi di dalam sudah banyak sekali orang di dalamnya. Pak Goes memang membawa beberapa anak buahnya utuk berjaga di dalam rumah. Alexandra terlihat berada di samping Mama, Wanita tua itu banyak diam dan berkata seadanya ketika di tanya.

            Dengan tidak tahu apa-apa Delphine mengikuti William yang menitipkan anak-anaknya ke rumah besar dan tanpa menjelaskan apapun mereka menuju rumahnya yang ternyata sudah ramai. Begitu melihat Mamanya, Delphine segera menghampirinya dan mencoba bertanya apa yang terjadi. Alih-alih Mama yang menjawab Alexandra malah menggantikan mamanya menjawab.

            Pak Goes juga nampak di sana dan menggiring William mendekat ke arah Mama, Alexandra dan Delphine yang terduduk di sofa. Nampak saling menenangkan.

            “Ma, mama bisa ceritakan kembali peristiwa tadi?”

            Ketika di minta suaminya, Mama langusng mengangkat kepala dan mencoba setenang mungkin menceritakan apa yang terjadi tadi.

            “Beberapa saat yang lalu, Mama sedang merawat beberapa anggrek Mama di luar, Alexandra di dalam saat itu. Tiba-tiba seseorang berpakaian serba hitam datang dan membuka pagar. Awalnya mama kira dia hanya tamu biasa, tapi ketika dia menanyakan keberadaan Papa, Mama mulai teringat dengan apa yang kita bicarakan tadi malam. Dan Mama yakin sekali itu dia.”

            “Apakah dia mencurigakan?”

            “Dari pakaiannya saja sudah mencurigakan. Apalagi jika kalian melihat tatapannya. Matanya mengitari rumah saat itu, seperti mencari seseorang atau apa mama gak tahu. Tapi ada pistol di balik jaketnya.”

            “Gimana mama bisa tahu?”

            “Mama terlalu tahu hal semcam itu sejak menjadi istri papamu.”

            Semuanya nampak terngugu mendengar apa yang dikatakan Mama. Inti pembicraan ini adalah : Rumah Pak Goes tidak lagi aman dan semua yang tinggal di dalamnya berada dalam status tidak aman.

            Yang paling di khawatirkan Willian adalah Delphine. Dia takut terjadi apa-apa dan tidak bisa menjaganya.

            “Gimana kalau sementara kalian semua pindah?” Usulan William terdengar begitu gegabah bagi Pak Goes. Rumah ini memang sudah menjadi perhatian musuh. Yang perlu kita lakukan hanya diam di dalamnya dan memikirkan strategi lain. Tidak pindah atau melarikan diri.

            “Jangan gegabah, William.” Entah kenapa Pak Goes bisa terlihat begitu tenang. Tidak seperti William. Padahal ketenanganlah yang harus dimilikinya saat ini. Ia harus bisa menyalurkan ketenangannya pada semua ornag di sini. Seperti apa yang dilakukan Pak Goes.

            “Kita akan tetap tinggal di sini. Tapi Papa harap kalian semua lebih berhati-hati.” Pak Goes melihat kea rah Gabby yang nampak masih terdiam, “gimana rencanamu, Lex?”

            “Hah?” Alexandra memang sudah menceritakan rencananya tentang membuat Yuma berkata yang sebenarnya. Gadis itu sudah menghubungi Yuma agar berada pada salah satu Bar di tengah kota dan mereka akan bertemu di sana. Kedekatan Alexandra dengan Yuma sebelumnya membuat Yuma tidak curiga ketika Alexandra meminta sebuah pertemuan dengan alasan ingin curhat. “Eh? Tadi Lexy udah hubungin kak Yuma. Dan dia udah setuju buat ketemu di bar.”

            “Kalau begitu nanti tiga anak buah om bakal ngikutin kamu dari belakang. Dan kamu pegang ini.” Pak Goes menyerahkan sebuah pulpen dengan alat perekam pada keponakannya itu. Benda itu bisa digunakan untuk merekam apa saja yang akan di katakana Yuma ketika mabuk dan Alexandra terus menanyakan pertanyaan yang memancing Yuma untuk mejawab. “Itu adalah alat perekam, kamu bisa gunakan ketika Yuma mulai ‘bernyanyi’.”

            “Iya, Om.”

            “Lexy, sendiri Pa?” Delphine menyela ketika sadar Alexandra akan pergi sendiri menjalankan misi ini. “Delphine ikut aja?”

            “Jangan kak, Lexy udah bilang sama Kak Yuma kalo Lexy lagi ada masalah sama kak Delphine.”

            Mengerti apa yang dikatakan Adik sepupunya itu Delphine hanya mengangguk dan kembali mendengarkan apa yang dikatakan Ayahnnya. 

            “Kamu jangan kemana-mana malam ini, Del. Temani mamamu.”

***

            William sama sekali tidak berniat melibatkan seluruh anggota keluarga Pak Goes pada masalahnya ini. Ketika tadi pagi dengan sangat terpaksanya ia meninggalkan kediaman Pak Goes, yang berarti ia meninggalkan cintanya begitu saja dalam pusaran bahaya, William sudah ingin menjerit dan meminta siapa saja untuk meminjaminya mesin waktu. Siapapunlah.

            Sekarang sudah sore, William berada di rumah besar karena Wilson yang sakit dan Gabby yang mendadak terjatuh pingsan dan ditemukan ketika salah seorang pembantu rumah besar membawakan makanan untuk makan siang kakaknya itu.

            Sekarang William hanya bisa ikut berbaring di sebelah Wilson yang nampak nyenyak dalam tidurnya sedangkan Eve yang sedang bermain di depan televise dengan miniature balok-balok nada yang diberikan Gabby bulan lalu.

            Nampak keringat bercucuran di dahi Wilson. Dengan telaten William mengusapnya sambil berharap ia bisa membuang semua kegundahan William bersama keringat yang ia usap. Ini bukan kali pertama William merawat anaknya yang sakit seorang, selalu bukan yang pertama kali setelah Deana meninggal.

            Ahh … Deana.

            “Heh jagoan … Ayo cepet sembuh!”

            Si kecil Eve diam-diam menghampiri ayahnya dan merangsek masuk dan berbaring diantara sang Ayah dan adiknya yang tengah tertidur. Matanya sudah memerah seperti menahan kantuk.

            “Eve! Jangan gitu dong, Son kan lagi tidur!”

            Satu hal yang tidak bisa William lakukan selain menguncir rambut Eve adalah membuat kedua anaknya tidur siang. Jangankan membuat keduanya tertidur, Jam tidur siang mereka saja William tidak tahu.

            “Son kalo tidur jelek ya, Pop?”

            Tanpa sadar keduanya memandangi Wilson yang sepertinya sudah benar-benar tidak sadarkan diri dan terlelap dalam tidurnya. Mereka tersenyum dalam ritme yang sama, ritme yang secara naluriah keluar dari dalam diri masing-masing sebagai pasangan ayah dan anak. Sekuat itu ikatan mereka bertiga, kalian perlu tahu itu.

            “Emang kamu enggak?” Dengan santai William menimpali perkataan Eve yang benar-benar menjatuhkan kredibilitas Wilson sebagai anak laki-lakinya. Sebenarnya ini lebih ke William membela sesama kaumnya saja.

            “Emang Eve jelek kalo tidur? Mangap gitu kayak Son?”

            “Eh? Son gak mangap! Yang mangap mah kamu!”

            Keduanya tertawa mengingat kebiasaan Eve yang memang selalu tidur dengan mulut terbuka.

            Ugh, betapa sayangnya William pada mereka berdua. Hingga dengan gerakan tiba-tiba, lengan kokoh William melingkar dan mendekap kedua anknya secara bersamaan, sedikit kencang seolah ingin menyatukan mereka kembali dalan satu telur yang sama seperti saat mereka belum lahir ke dunia.

            “Sakit, Pop!”

            Dilepasnya dekapan William dengan perlahan. Tangannya yang bebas menarik Eve untuk melihatnya dengan lebih dekat, saat itu William memberikan senyum terbaiknya. “Pop sayang sama Eve.”

            “Eve juga sayang sama Pop.”

            Dikecupnya kening Eve dengan penuh kasih sayang, sedangkan anak itu malah tak henti-hentinya meronta karena tidak mau dikecup sang ayah. Duh, sebesar ini saja Eve sudah tidak mau dikecup ayahnya sendiri, bagaimana nanti? William sepertinya harus benar-benar siap diduakan Eve dengan dunia anak gadisnya itu kelak.

            “Eh? Pop sayang gak sama Mom?”

            Deg.

            Selama William menjadi Ayah si kembar. Ini adalah pertanyaan pertama Eve tentang Mom mereka. Tentang perasaan William pada Deana. Bagiamana William bisa menjelaskannya? Bagiamana William bisa mendeskripsikan seberapa besar sayangnya pada Deana, seberapa cintanya William sehingga ia bertahan sampai hari ini, sampai detik ini.

            Dan bagaimana William harus menjelaskan bagaimana dirinya yang jatuh cinta pada Delphine secara tiba-tiba? Bagaimana mereka bisa mengerti?

            “Pop sayang sama Mom lebih dari apapun. Karena Mom ada di dalam hati kita masing-masing.”

***

Have you enjoy? 

Please answet that queation on comment box on this site, explain how your feel or give me critics and advices for this chapter, or you can mention me on twitter @Rulitash 
I'm waiting for your feedbacks *ketjup manis manja*